AFPI : Pinjol ilegal beri dampak negatif dan rusak industri fintech

AFPI : Pinjol ilegal beri dampak negatif dan rusak industri fintech

Jakarta (ANTARA) – Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan pinjaman on-line (pinjol) ilegal telah memberikan dampak negatif sekaligus merusak industri monetary era (fintech) sebagai pemberi akses keuangan bagi masyarakat unbanked dan underserved.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, dia mengatakan industri fintech selama ini telah berhasil menjangkau masyarakat dalam mengakses permodalan, bahkan nilai transaksinya terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.

Tercatat, consistent with Juli 2022, jumlah penyaluran pinjaman fintech pendanaan telah mencapai Rp416 triliun, dengan jumlah peminjam mencapai 86,36 juta rekening dan 928 ribu lender, baik entitas maupun individu.

Lalu, untuk exceptional pinjaman telah mencapai Rp45,73 triliun atau tumbuh 88,84 persen 12 months on 12 months (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, dengan tingkat keberhasilan bayar terjaga di angka 97,33 persen.

Dengan itu, Kuseryansyah menyebut rasio kredit bermasalah atau Non Acting Mortgage (NPL) cukup baik yakni hanya 2,67 persen.

Dia berharap berbagai sosialisasi dan edukasi terkait fintech pendanaan dapat terus dilakukan, agar manfaatnya sebagai solusi akses keuangan produktif dapat dirasakan seluas-luasnya, sehingga mendukung produktivitas masyarakat sebagai modal kerja maupun usaha.

Dalam kesempatan sama, Ketua Bidang Edukasi, Literasi dan Riset AFPI Entjik S. Djafar meminta masyarakat mewaspadai dan memahami ciri-ciri pinjol ilegal yang marak beredar.

Dia juga meminta masyarakat menolak penawaran yang dilakukan melalui pesan singkat karena saat ini banyak pelaku pinjol ilegal yang menggunakan nama maupun emblem menyerupai perusahaan fintech berizin.

“Kurangnya pemahaman disertai tingginya kebutuhan masyarakat di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi, telah memberi celah bagi pinjol ilegal untuk terus bermunculan. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat kita memahami pemanfaatan fintech P2P lending yang tepat dan bisa terselamatkan dari jebakan pinjol ilegal,” kata Entjik.

Seperti diketahui, sejak 2018 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi (SWI) telah menghentikan lebih dari 4.160 entitas pinjol ilegal. OJK pun telah memperkuat regulasi melalui POJK 10/2022 untuk meningkatkan kualitas penyelenggara pinjol, serta mempersempit ruang bertumbuhnya pinjol ilegal.

Baca juga: Berantas pinjol ilegal, OJK buka posko konsultasi dan pengaduan

Baca juga: Kadin: Pinjol ilegal rusak tatanan industri keuangan digital

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link


Leave a Reply

Your email address will not be published.