Jakarta (ANTARA) – Presiden Direktur PT Financial institution Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menyebut kenaikan suku bunga Financial institution Indonesia 7 Days Opposite Repo Charge sebesar 75 foundation poin (bps) menjadi 4,75 persen telah sesuai dengan prediksi pasar.

“Ini sesuai dengan ekspektasi pasar bahwa BI akan menyesuaikan untuk menjaga rupiah yang mungkin akan terdepresiasi tapi lebih baik dibandingkan mata uang lain,” kata Jahja dalam Paparan Kinerja Kuartal III 2022 yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Sepanjang 2022 rupiah melemah terhadap dolar AS sampai sekitar 8 persen sehingga kebijakan BI untuk menaikkan suku bunga acuan dipandang sudah tepat.

Apalagi, financial institution sentral AS, The Federal Reserve telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 300 bps sepanjang tahun dan diperkirakan akan kembali menaikkan 75 bps pada awal November 2022.

“Perbankan sebenarnya masih punya cukup dana tapi kita perlu perhatikan bagaimana tambahan pinjaman mendekati akhir tahun. Namun demikian, hal-hal seperti tiba-tiba ada dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) ini juga bisa mengurangi kredit perbankan, likuiditas juga bisa membanjir lagi,” ucapnya.

Adapun transmisinya terhadap suku bunga kredit dan deposito perbankan diperkirakan akan terjadi dalam dua sampai tiga bulan ke depan, bergantung struktur pendanaan setiap financial institution.

Ia mengatakan saat ini BCA masih memiliki dana yang cukup besar sehingga masih bisa bertahan sebelum meningkatkan suku bunga deposito. Sementara untuk kredit, ia mengatakan masih perlu melihat ketentuan setiap perjanjian kredit.

“Misalnya KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) ada yang tiga atau lima tahun bunganya tetap. Ada juga perjanjian kredit yang ditandatangani dengan bunga yang telah disepakati, itu bisa berlaku bunga tetap selama setahun,” terangnya.

Di samping itu, beberapa kredit juga memiliki suku bunga yang berkaitan dengan Jakarta Interbank Introduced Charge (JIBOR) yang dapat membuat bunga kredit naik dengan sendiri.

“Jadi dampak kenaikan suku bunga acuan BI tidak serta merta tersalur kepada suku bunga kredit, karena tergantung kondisi kredit, perjanjian kreditnya, kapan dibayarkan, dan bagaimana struktur pendanaan financial institution itu sendiri,” katanya.

Baca juga: Penyaluran kredit BCA capai Rp682 triliun sampai September 2022

Baca juga: BCA bukukan pertumbuhan laba bersih 24,8 persen sampai September 2022

Pewarta: Sanya Dinda Susanti
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *