Jadi inilah yang kami lakukan sekarang, sekitar lima persen dari portofolio kami dalam cadangan devisa dialokasikan untuk obligasi berkelanjutan

Jakarta (ANTARA) – Financial institution Indonesia (BI) mengalokasikan sekitar lima persen dari overall cadangan devisa dalam bentuk obligasi berkelanjutan, atau senilai 6 miliar dolar AS sebagai komitmen dan langkah maju dalam menjanjikan lingkungan hijau, tidak hanya sekedar menyelaraskan portofolio.

“Jadi inilah yang kami lakukan sekarang, sekitar lima persen dari portofolio kami dalam cadangan devisa dialokasikan untuk obligasi berkelanjutan,” ucap Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam Mandiri Sustainability Discussion board 2022 yang dipantau secara bold di Jakarta, Rabu.

Ia menegaskan BI memiliki prinsip untuk menunjukkan kepemimpinan hijau di sektor keuangan, di tengah financial institution sentral lain di seluruh dunia sedang mencoba menyelaraskan portofolio mereka untuk memenuhi jalur transisi dengan mengalihkan portofolio dari emiten dengan emisi yang lebih tinggi ke emiten yang lebih rendah emisi.

Selain itu terdapat tindakan nyata lainnya yang dilakukan oleh BI melalui kebijakan yang memberikan dukungan pada pembiayaan hijau atau pembiayaan berkelanjutan.

Pada tahun 2020 BI mempublikasikan peraturan Mortgage to Price (LTV) untuk mendorong adaptasi bangunan hijau dan kendaraan listrik dengan mengizinkan relaksasi LTV pinjaman properti hijau hingga 100 persen dan uang muka pinjaman kendaraan listrik hingga nol persen.

Baca juga: BI: Potensi investasi infrastruktur hijau RI di atas 600 miliar dolar

Kemudian di tahun 2022, pihaknya juga memperkenalkan aturan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) hijau untuk meningkatkan penerbitan obligasi hijau dengan memungkinkan financial institution untuk memenuhi persyaratan RPIM dengan membeli obligasi hijau.

“Peraturan RPIM hijau yang baru saja diperkenalkan ini telah menciptakan permintaan yang signifikan untuk obligasi hijau domestik,” katanya.

Hal tersebut, kata dia, pada gilirannya mendorong Pemerintah Indonesia untuk menerbitkan sukuk hijau domestik dan obligasi berkelanjutan domestik, sehingga fenomena itu menunjukkan bahwa kebijakan makroprudensial berdampak pada pembiayaan hijau.

Di sisi lain dalam operasi moneter, otoritas kini dapat menerima obligasi berkelanjutan sebagai jaminan bagi financial institution untuk mendapatkan likuiditas dari BI melalui operasi pasar.

Oleh karena itu bagi financial institution yang memiliki obligasi hijau maupun obligasi berkelanjutan, kata dia, jika financial institution membutuhkan likuiditas dari financial institution sentral, maka mereka bisa melakukan repo obligasi ke financial institution sentral dan mereka akan mendapatkan likuiditas rupiah untuk membiayai proyek-proyek berkelanjutan.

Baca juga: Pembiayaan dan aset berkelanjutan perbankan RI capai Rp809,75 triliun

Baca juga: Bank Mandiri salurkan pembiayaan berkelanjutan hingga Rp221 triliun

 

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *