Biaya untuk mengakses harus sesuai dengan pendapatan masyarakat, apabila terlalu tinggi atau mahal akan menjadi masalah

Jakarta (ANTARA) – Direktur Latin American Initiative dan Senior fellow di Middle for International Construction (CGD) Liliana Rojas-Suarez memberikan lima saran bagi Indonesia dalam upaya meningkatkan inklusi keuangan.

Dalam TIIWG Street To G20 Match : SOE Global Convention yang dipantau di Jakarta, Senin, dia menyampaikan yang pertama adalah mempercepat digitalisasi, yakni memberikan akses virtual yang seluas-luasnya, cepat dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

Kedua, meningkatkan layanan pembayaran atau fee. Menurut dia, layanan pembayaran yang baik akan memudahkan akses masyarakat dalam pembiayaan atau kredit, asuransi hingga produk keuangan lainnya.

Ketiga, memperluas keterjangkauan akses infrastruktur virtual. Ia mengatakan infrastruktur yang lengkap apabila tidak terjangkau oleh masyarakat tidak akan berguna.

“Biaya untuk mengakses harus sesuai dengan pendapatan masyarakat, apabila terlalu tinggi atau mahal akan menjadi masalah,” kata Liliana.

Kemudian yang keempat menjaga stabilitas makro ekonomi, karena dengan makro ekonomi yang stabil masyarakat akan beralih ke sistem keuangan formal karena mereka peduli terhadap masalah seperti, inflasi dan lainnya.

Selanjutnya kelima, meningkatkan kualitas kebijakan oleh regulator. Menurut dia, ini adalah hal yang paling penting, kebijakan yang dibuat harus mempermudah akses masyarakat ke lembaga jasa keuangan.

Sementara, dalam kesempatan sama, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo menyampaikan pemerintah saat ini terus meningkatkan inklusi keuangan masyarakat, khususnya pelaku UMKM.

Selain itu, peningkatan inklusi keuangan juga secara masif terus dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan dan perlindungan konsumen.

“Masyarakat tidak hanya memiliki kemudahan dalam akses keuangan, akan tetapi mendapatkan akses perlindungan, ini sangat penting,” ujarnya.

Sebagai informasi, indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 83,6 persen pada 2021 atau meningkat dari 81,4 persen pada 2020, beberapa indikator utama yang mendukung pencapaian ini meliputi peningkatan akses keuangan, akselarasi penggunaan jasa keuangan formal, dan membaiknya kualitas jasa keuangan.

Baca juga: Wamen BUMN sebut bank agen dan QRIS akselerasi inklusi keuangan

Baca juga: OJK catat capaian program inklusi keuangan anak muda terus meningkat

Baca juga: G20 RI dorong percepatan inklusi keuangan UMKM lewat digitalisasi

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *