pengembangan ekonomi virtual diyakini dapat membantu perkembangan ekonomi dengan lebih cepat, salah satu contohnya adalah dengan terpangkasnya rantai pasok pangan ke konsumen.

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan konsultan Grant Thornton menilai optimalisasi ekonomi virtual akan mampu menjadi solusi untuk menekan risiko inflasi yang meroket sebagaimana yang tengah dialami sejumlah negara di dunia.

CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani dalam keterangan di Jakarta, Senin, mengatakan pengembangan ekonomi virtual diyakini dapat membantu perkembangan ekonomi dengan lebih cepat, salah satu contohnya adalah dengan terpangkasnya rantai pasok pangan ke konsumen.

“Melalui aplikasi, para petani bisa menjajakan produk sayur mayur, buah, hingga hasil ternak langsung ke konsumen akhir,” katanya.

Baca juga: BI: UMKM tulang punggung transformasi digital dan ekonomi Indonesia

Tidak hanya itu, masyarakat juga semakin dipermudah dengan luasnya perdagangan berbasis virtual (e-commerce).

Hal itu juga didukung pula dengan berkembangnya keuangan berbasis virtual (Fintech), pertumbuhan transaksi juga semakin cepat dengan penggunaan uang elektronik (E-money) dan transaksi non-tunai lebih efektif dan efisien.

Menurut Johanna, pemerintah Indonesia juga terus menunjukkan komitmen untuk melakukan reformasi struktural perekonomian Indonesia yang mendukung inovasi dan transformasi virtual.

Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi virtual yang pesat sejak 2021 mengharuskan Indonesia untuk terus mempersiapkan diri dan beradaptasi, termasuk salah satunya memperkuat keamanan siber dan perlindungan information pribadi.

“Seperti yang kita tahu, banyak terjadi kasus serangan siber sepanjang tahun 2022, hal ini tentunya perlu menjadi perhatian ekstra bagi pemerintah,” ungkapnya.

Baca juga: Kemenkeu: Generasi milenial berpotensi kembangkan ekonomi digital RI

Selain itu, Johanna juga menilai perlu sosialisasi yang lebih gencar untuk meningkatkan literasi virtual di masyarakat. Pasalnya, literasi virtual akan dapat memainkan peran kunci dalam meningkatkan keamanan publik, meningkatkan keterlibatan masyarakat, dan memperluas akses ke layanan sektor publik.

“Prospek pertumbuhan ekonomi virtual Indonesia masih sangat menjanjikan, namun perlu ada kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta dalam menciptakan ekosistem virtual yang aman dan inklusif,” kata Johanna.

Berdasarkan hasil riset dari Google, Temasek, dan Bain & Corporate, Gross Marketplace Worth (GMV) dari ekonomi virtual Indonesia mencapai 70 miliar dolar AS pada 2021, dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Potensi ekonomi virtual tersebut pun masih akan terus tumbuh lantaran menurut laporan Google, Temasek, dan Bain & Corporate, tingkat pertumbuhan majemuk (Compound Annual Enlargement Fee/CAGR) dari ekonomi virtual Indonesia sebesar 20 persen, sehingga GMV-nya akan menjadi 146 miliar dolar AS pada 2025.

 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *