Pertumbuhan ekonomi international melambat disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan international

Jakarta (ANTARA) – Gubernur Financial institution Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan setelah membaik pada tahun 2022 pertumbuhan ekonomi international tahun 2023 diperkirakan akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, bahkan disertai dengan risiko resesi di beberapa negara.

“Pertumbuhan ekonomi international melambat disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan international,” ucap Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Oktober 2022 dengan Cakupan Triwulanan yang dipantau secara bold di Jakarta, Kamis.

Ia membeberkan revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi terjadi di sejumlah negara maju, terutama Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China.

Perlambatan ekonomi international dipengaruhi oleh berlanjutnya ketegangan geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi, serta dampak pengetatan kebijakan moneter yang agresif.

Baca juga: BI kembali pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global jadi 2,8 persen

Dampak rambatan dari fragmentasi ekonomi international diperkirakan juga akan menyebabkan perlambatan ekonomi di negara-negara pasar berkembang alias Rising Markets (EMEs).

Sementara itu, kata Perry Warjiyo, tekanan inflasi dan inflasi inti international masih tinggi seiring dengan berlanjutnya gangguan rantai pasokan sehingga mendorong financial institution sentral di banyak negara menempuh kebijakan moneter yang lebih agresif.

“Kenaikan suku bunga acuan AS yang diperkirakan lebih tinggi dengan siklus yang lebih panjang alias upper for longer mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS sehingga memberikan tekanan pelemahan atau depresiasi terhadap nilai tukar di berbagai negara, termasuk Indonesia,” tuturnya.

Dengan begitu, sambung dia, tekanan pelemahan nilai tukar tersebut semakin tinggi dengan ketidakpastian pasar keuangan international yang meningkat, dan di negara pasar berkembang, termasuk Indonesia, diperberat pula dengan aliran keluar investasi portofolio asing.

Baca juga: BI: Aliran modal asing keluar capai Rp4,22 triliun pada 10-13 Oktober

Baca juga: BI kembali naikkan suku bunga acuan 50 bps, menjadi 4,75 persen

 

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *