Pertumbuhan ini sejalan dengan strategi manajemen untuk tumbuh dengan sehat dan berkelanjutan dengan menyasar pada debitur best tier di segmen industri prospektif…

Jakarta (ANTARA) – PT Financial institution Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat pertumbuhan kredit mencapai 9,1 persen pada triwulan III 2022 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp622,61 triliun pada triwulan III-2022.

Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati dalam Konferensi Pers Kinerja BNI Kuartal III 2022 yang dipantau secara bold di Jakarta, Senin, menyampaikan kinerja pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh kredit korporasi swasta yang mencapai Rp211,9 triliun atau tumbuh 20,4 persen secara tahunan (yoy).

Kemudian diikuti oleh segmen komersial besar senilai Rp49,4 triliun atau tumbuh 22,3 persen secara tahunan. Pada segmen kecil, pertumbuhan terutama pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tercatat Rp51,3 triliun atau naik 24,3 persen (yoy). Sementara untuk segmen konsumer mencapai Rp106,9 triliun atau naik 11,3 persen (yoy) dengan pertumbuhan terutama pada produk payroll mortgage.

“Pertumbuhan ini sejalan dengan strategi manajemen untuk tumbuh dengan sehat dan berkelanjutan dengan menyasar pada debitur best tier di segmen industri prospektif, diiringi dengan kebijakan manajemen risiko yang prudent,” ucap Adi Sulistyowati yang akrab disapa Susi ini.

Baca juga: BNI bukukan laba Rp13,7 triliun di triwulan III, melonjak 76,8 persen

Ia menuturkan perkembangan kinerja BNI hingga triwulan III tahun ini juga didukung oleh tingkat permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai, sebagaimana tercermin dari Rasio Pemenuhan Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang berada di degree 18,9 persen dan Rasio Kredit Terhadap Simpanan (Mortgage to Deposit Ratio/LDR) di degree 91,2 persen.

Selain itu Liquidity Protection Ratio (LCR) berada di degree 193 persen dan Rasio Pendanaan Stabil Bersih (Internet Solid Investment Ratio/NSFR) di degree 124 persen yang menunjukkan BNI memiliki kecukupan likuiditas untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Dari sisi kualitas aset, Susi menyampaikan Risiko Kredit (Mortgage at Chance/LAR) mengalami penurunan signifikan dari 25,2 persen di September 2021 menjadi 19,3 persen pada September 2022, terutama karena menurunnya jumlah kredit restrukturisasi COVID–19.

BNI pun terus berupaya menjaga LAR Protection atau rasio pencadangan untuk debitur LAR pada degree yang memadai, yakni sebesar 42,7 persen.

“Bahkan, kami melihat bahwa kemampuan pembayaran kewajiban dari debitur LAR semakin membaik, sehingga mendorong perbaikan pada pendapatan bunga, serta menjadi indikasi pemulihan bisnis nasabah yang lebih baik setelah terdampak pandemi,” ungkapnya.

Baca juga: BNI terus dorong pertumbuhan sehat dengan transformasi

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *