Literasi masyarakat terhadap virtual ini masih perlu ditingkatkan karena berdasarkan information, literasi virtual masyarakat Indonesia dalam kategori sedang

Jakarta (ANTARA) – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Sadewa menyatakan literasi virtual masyarakat Indonesia perlu terus ditingkatkan, karena masih dalam kategori sedang.

“Literasi masyarakat terhadap virtual ini masih perlu ditingkatkan karena berdasarkan information, literasi virtual masyarakat Indonesia dalam kategori sedang,” katanya dalam webinar Infobank di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan information dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 2020, indeks literasi virtual masyarakat Indonesia pada 2021 berada di degree 3,49 yang hanya naik sedikit dari 2020 sebesar 3,46.

Indeks literasi virtual sendiri merupakan indeks yang mengukur kerangka kerja pengembangan kurikulum virtual antara lain virtual abilities, virtual ethics, virtual protection dan virtual tradition.

Indeks ini berada direntang degree satu sampai lima dengan angka satu adalah buruk dan lima adalah baik.

Untuk virtual abilities masyarakat Indonesia pada 2020 sebesar 3,34 yang naik sedikit menjadi 3,44 pada 2021, sedangkan virtual tradition nasional pada 2020 sebesar 3,55 pada 2020 dan 3,9 pada 2021.

Di sisi lain, virtual ethics masyarakat Indonesia yang pada 2020 sebesar 3,72 turun menjadi 3,53 pada 2021, serta virtual protection yang pada 2020 sebesar 3,24 turut turun menjadi 3,2 pada 2021.

Menurut Purbaya, literasi virtual masyarakat harus segera diperbaiki mengingat digitalisasi sangat berkembang pesat hingga memunculkan segmen-segmen tersendiri dalam ekonomi dan keuangan.

Ia menegaskan literasi virtual menjadi hal penting karena risiko cybersecurity kian hari semakin meningkat.

Berdasarkan information dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), percobaan serangan sinergi ke Indonesia mencapai 232 juta kali pada 2018 dan terus meningkat menjadi 290 juta kali pada 2019 dan 495 juta kali pada 2020.

Meski demikian, Purbaya mengatakan dari sisi pihak sudah senantiasa memperkuat dan mengkaji keandalan sistem informasinya.

“Ini dimaksudkan supaya infrastruktur perbankan mumpuni untuk mencegah terjadinya kejahatan cyber,” tegasnya.

Baca juga: LPS: Gap antara literasi dan inklusi keuangan masih jadi tantangan RI

Baca juga: LPS : Tingkatkan literasi keuangan anak muda guna turunkan ketimpangan

Baca juga: LPS: Minimalkan kejahatan siber dengan literasi dan pengawasan ketat

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *