Hingga 25 Oktober 2022 mencapai Rp190,9 triliun dengan tambahan 48 emiten baru

Jakarta (ANTARA) – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp190,9 triliun hingga 25 Oktober 2022.

“Hingga 25 Oktober 2022 mencapai Rp190,9 triliun dengan tambahan 48 emiten baru,” katanya dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala IV Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) 2022 yang dipantau di Jakarta, Kamis.

OJK mencatat kinerja pasar saham mampu menguat 7,09 persen (ytd) ke degree 7.048,38 in step with 25 Oktober 2022 dan termasuk salah satu bursa saham dengan kinerja terbaik di kawasan.

Hal ini ditunjang dengan web purchase nonresiden di pasar saham senilai Rp77,22 triliun secara yr up to now di tengah volatilitas pasar keuangan international.

Namun demikian, perlu dicermati bahwa tekanan terhadap pasar keuangan international juga sudah mulai berdampak pada pasar saham domestik.

“Hal ini tercermin dari penguatan terbatas pasar saham domestik yang hanya sebesar 0,10 persen (mtd) yang juga diikuti oleh penurunan nilai dan frekuensi transaksi,” katanya.

Lebih lanjut Mahendra menyampaikan stabilitas sistem keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan relatif terjaga dengan intermediasi lembaga jasa keuangan yang tumbuh sejalan dengan kinerja perekonomian nasional.

“Kredit perbankan pada kuartal III tahun 2022 tumbuh sebesar 11 persen (yoy) in step with September 2022, terutama didorong oleh jenis kredit modal kerja yang tumbuh sebesar 12,26 persen (yoy) dan pertumbuhan kredit debitur korporasi sebesar 12,97 persen (yoy),” katanya.

Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 6,77 persen (yoy) didorong giro dan tabungan yang tumbuh masing-masing sebesar 13,52% (yoy) dan 10,05 persen (yoy).

Sejalan dengan kinerja intermediasi perbankan, penyaluran pembiayaan melanjutkan tren positif, yakni tumbuh 10,68 persen (yoy) in step with September 2022 didukung pembiayaan terutama modal kerja dan investasi yang tumbuh masing-masing sebesar 27,1 persen (yoy) dan 21,7 persen (yoy).

Adapun NPL gross perbankan in step with September 2022 terpantau turun menjadi sebesar 2,78 persen, sementara rasio NPF perusahaan pembiayaan turun ke degree 2,58 persen.

“Di sisi lain, likuiditas perbankan memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) di degree 121,62 persen dan Alat Likuid/DPK di degree 27,35 persen pada September 2022,” ucapnya.

Baca juga: BEI dan UI kolaborasi optimalisasi publikasi statistik pasar modal

Baca juga: Jelang Sumpah Pemuda, KSEI sebut Gen Z masih kuasai pasar modal

Baca juga: BEI optimistis capai target 70 pencatatan efek baru pada 2023

Pewarta: Sanya Dinda Susanti
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *