BRI merupakan contoh dari suksesnya inexperienced revolution. BRI juga dapat saya katakan sebagai global’s greatest & maximum a hit winning microbanking. It’s an excellent untold tale

Jakarta (ANTARA) – Adjunct Lecturer Harvard Kenedy College Professor Jay Ok. Rosengard mengapresiasi kontribusi PT Financial institution Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam mendorong inklusi keuangan dan menerapkan Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia.

Menurut dia, dalam keterangan di Jakarta, Selasa, kontribusi perseroan itu tidak semata-mata datang tiba-tiba, namun, merupakan buah dari upaya panjang selama ini dalam memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)) sebagai spine utama bisnis.

Saat teknologi dalam pertanian mulai merambah dua dekade lalu, dia menjelaskan, BRI bersama pemerintah mulai berperan aktif membiayai pembelian beras, pupuk, pestisida, dan biaya hidup tunjangan selama masa transisi dan edukasi melalui program BIMAS (Bimbingan Massal).

“Ini adalah awal atau cikal bakal microbanking secara nasional di BRI. Dan apa yang terjadi dari waktu ke waktu adalah petani mengadopsi teknologi baru dan membentuk perspektif revolusi hijau. Ini adalah kesuksesan yang luar biasa, Indonesia berubah dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi pengekspor beras bersih dalam waktu sekitar satu generasi, 20 tahun” kata Jay.

Selain itu, menurut dia, selama ini pembiayaan yang disalurkan oleh BRI telah menjadi pendorong utama produktivitas pelaku UMKM di Indonesia.

“Adopsi teknologi ini sangat meningkatkan produktivitas petani yang tentu saja meningkatkan pendapatan dan standar hidup mereka. Tetapi semua hal tersebut tidak mungkin terjadi bila tidak ada pembiayaan dari BRI untuk meningkatkan produktivitas mereka,” kata Jay.

Dua dekade sejak awal dari upaya itu, saat ini perseroan tumbuh menjadi financial institution dengan aset terbesar dan penyalur utama kredit UMKM di Indonesia dengan proporsi mencapai 83 persen dari general kredit, atau setara Rp920 triliun according to kuartal II-2022.

“BRI merupakan contoh dari suksesnya inexperienced revolution. BRI juga dapat saya katakan sebagai global’s greatest & maximum a hit winning microbanking. It’s an excellent untold tale,” kata Jay.

Lebih lanjut, Jay menilai BRI telah berhasil menjalankan bisnisnya sebagai industrial financial institution yang terbukti dapat membukukan laba Rp24,88 triliun pada semester I-2022, dengan sebagian diantaranya dikontribusikan kepada pemerintah melalui dividen serta pajak.

Dalam kesempatan sama, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menyampaikan masih besarnya potensi di Indonesia, dari sekitar 55 juta pelaku extremely mikro, sekitar 30 jutanya belum tersentuh oleh lembaga keuangan formal.

“Mereka punya account atau memiliki type pembiayaan lain, tapi tidak dapat mengakses lembaga keuangan formal. Jadi kita bisa kategorikan nasabah extremely mikro ke dalam kategori unbankable dan unfeasible, ada juga possible tetapi unbankable karena tidak memiliki collateral, dan nasabah yang sudah naik kelas.” kata Tiko.

Dengan itu, pemerintah telah mengintegrasikan tiga entitas yakni BRI, Pegadaian dan PNM dalam protecting Extremely Mikro (UMi) yang menghadirkan co-location SENYUM dimana masyarakat bisa mendapatkan berbagai layanan dan produk pembiayaan di dalam satu kantor.

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *