Washington DC, AS (ANTARA) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan sinergi otoritas fiskal dan moneter melalui bauran kebijakan dapat kembali dilakukan asalkan terjadi kejadian yang membutuhkan penanganan khusus.

“Kalaupun kita kembali menggunakan, harus ada justifikasinya yaitu ada kejadian odd,” kata Sri Mulyani saat ditemui di sela-sela pertemuan IMF-WB di Washington DC, AS, Rabu waktu setempat.

Ia mengatakan sinergi kebijakan fiskal maupun moneter telah berjalan dengan baik serta berkesinambungan selama masa pandemi terutama melalui burden sharing (SKB) untuk pembiayaan APBN.

Bauran kebijakan tersebut terbukti telah membantu APBN dalam mendukung program pemulihan ekonomi nasional, mengingat pandemi tidak hanya memberikan dampak terhadap sektor kesehatan, tetapi juga sektor perekonomian.

Selama masa pandemi, sejumlah insentif bahkan telah diberikan kepada pelaku usaha, korporasi maupun UMKM, termasuk sektor tertentu seperti otomotif dan pariwisata agar perekonomian dapat cepat pulih.

Namun, ketika kondisi sudah mulai pulih, Sri Mulyani menegaskan bahwa pemerintah akan kembali berupaya merumuskan kebijakan fiskal tanpa mengganggu independensi otoritas moneter untuk menjaga kredibilitas masing-masing.

“Kalau ekonomi sudah relatif pulih, kita harus kembali kepada situasi standard, karena ini bagian dari menjaga kredibilitas dan sustainibilitas dari dua instrumen fiskal dan moneter,” katanya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Financial institution Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo memastikan sinergi antara otoritas fiskal dan moneter telah terjalin dengan baik selama masa-masa kritis penanganan pandemi.

Selain itu, koordinasi serupa juga telah dilakukan dalam pengendalian inflasi, terutama ketika perekonomian dihadapkan dengan adanya tekanan inflasi international yang berpotensi meningkat hingga akhir 2022.

Menurut dia, kebijakan penyesuaian harga BBM karena faktor geopolitik di Eropa telah membantu financial institution sentral dalam merumuskan kebijakan moneter yang sesuai dalam pengendalian inflasi.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam Laporan International Financial Outlook terbaru mengingatkan pentingnya sinergi kebijakan fiskal dengan moneter, terutama untuk mengatasi potensi tingginya inflasi international.

“Bertindak sebaliknya akan menghambat upaya pengendalian inflasi, memberikan risiko lebih lanjut, meningkatkan biaya dan mengganggu stabilitas sistem finansial,” kata Financial Counsellor IMF Pierre-Olivier Gourinchas.

Baca juga: Ekonom: Kebijakan fiskal dan moneter yang tepat redam gejolak global

Baca juga: BI sebut koordinasi fiskal dan moneter penting cegah risiko stagflasi

 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *